Nugroho Imam Setiawan Anak Indonesia Yang Ikut Penelitian Di Antartika

Nugroho-Imam-Setiawan

Nugroho Imam Setiawan Anak Bangsa Indonesia Yang Ke Antartika

Nugroho Imam Setiawan, ST ,MT,PhD adalah seorang dosen perguruan tinggi Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada yang berada di kota Yogyakarta. Dirinya terpilih dan mengikuti kegiatan dalam penelitian masa depan planet Bumi di Antartika.
Penelitian tersebut dibutuhkan untuk dapat melihat perubahan iklim yang ada di Bumi ini ke depannya. Penelitian tersebut dilakukan selama dua bulan di Antartika yang dibiayai oleh Japan Antartic Research Expedition (JARE).

Nugroho Imam Setiawan tidak sendirian dalam penelitian di Antartika tersebut, dirinya yang tergabung bersama beberapa peneliti dari negara lain didalam tim JARE 58 ini. Negara yang ikut serta dalam penelitian JARE 58 ini berasal dari Jepang , dua ilmuwan peneliti dari Mongolia dan Sri Lanka.

Nugroho Imam berangkat ke Antartika dari akhir bulan Desember tahun 2016 dan dirinya akan melakukan reset dan penelitian selama dua bulan di Antartika.

Dijawalkan Nugroho Imam melakukan penelitian selama 2 bulan dari bulan Januari hingga Febuari 2017, dirinya melakukan penelitian mengenai berbagai macam bebatuan geologi yang ada di Antartika.

Perjalanan Nugroho Imam Setiawan menggunakan kapal ekpedisi Shirase. Tidak lupa dirinya berbagi pengalaman melalui catatan perjalanannya kepada Universitas Gajah Mada dimana tempatnya mengajar sekarang ini.

Promo 100% Dari Sabung Ayam S1288 & SV388

Selama 17 hari tahap pertama dirinya berada di fieldwork di Antartika. Nugroho Imam beristirahat sejenak selama 1 hari di kapal ekpedisi Shirase. Dirinya mengatakan selama di fieldwork dia menuju ke tiga lokasi yang berbeda.
Dan dari lokasi yang telah dikunjunginya, Nugroho Imam menilai bahwa setiap lokasi-lokasi yang telah dia kunjungi memiliki kelebihan dan kekurangan masing – masing.

Baik dari segi geologi, medan,iklim, dan lokasi base camp tempat mereka berkumpul dan beristirahat selama di fieldwork.

Selama beristirahat di kapal Shirase Nugroho Imam dan tim yang ikut didalam JARE 58. Mereka gunakan untuk mandi, mencuci pakaian , menginput data, dan menyiapkan peta kerja di lapangan untuk selanjutnya.

Nugroho Imam mengatakan masih ada tersisa waktu selama 1 bulan di fieldwork. Dan jika cuacanya baik, maka dirinya akan kembali ke lapangan. Tim JARE 58 juga harus mencari lokasi base camp yang terbaru agar dapat mendaratkan helikopter.

Fungsi Helikopter tersebut sebagai antar – jemput dengan 2 helikopter secara bergantian. Di lokasi fieldwork terdapat batuan metamorf (gneissik) dan granitoids (pluton maupun pegmatit) ataupun perpaduan keduannya (migmatit). Selain bebatuan yang sudah di sebutkan barusan masih ada juga bebabtuan lainnya seperti Honeycomb structure yang sering dijumpai pada bebatuan akibat gerusan angin dengan iklim kering di permukaan batuan.

Setiap harinya Nugroho bersama tim mengoleksi 10 – 20 kg sampel batuan batuan dengan jarak tempuh 5 – 10 km. Semua batuan yang di dapat dari lapangan akan di kumpulkan di 1 tenda besar yang ada di basecamp. Suhu yang ada di fieldwork sangat bervariasi dari -5 derajat hingga 5 derajat celcius dengan kelembaban udara sebesar 40 hingga 60 persen.

Terkadang suhu bisa menjadi -2 derajat ditambah angin dingin dan hujan salju untuk keadaan pagi hari hingga menjelang malam. Sedangkan untuk malam harinya bisa mencapai suhu -1 hingga 0 derajat.

 

Judi Bola Terpercaya – Wahanabet

STATUS BANK

KONTAK KAMI